Sepakbola dan Tata Bahasa
Cabang
olahraga sepakbola selalu ada tempat di hati masyarakat Indonesia, mulai dari
tingkat kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota dan seterusnya. Dari daerah trans
maupun daerah yang telah lama berdiri, kesemuanya mempunyai klub sepakbola.
Mulai tahu dan belajar menendang bola dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah
menengah atas yang diajarkan oleh Guru Penjaskes. Kita memang terbiasa dengan
sepakbola, tapi apakah kebiasaan itu menjadikan sepakbola nasional kita
berprestasi? Atau memang kita sengaja menggunakan sepakbola hanya sebagai
sarana berolahraga menjaga kesehatan?dan hanya mantab menonton di layar kaca,
EPL, La Liga, Serie A, bahkan liga champions yang menjadi pertarungan klub –
klub besar eropa?
Semua pertanyaan itu selalu terngiang – ngiang di fikiran
saya, hehe…maklum saya sangat mencintai sepakbola. Mungkin bisa dibilang dari
olahraga inilah saya bisa duduk di bangku perkuliahan hingga lulus menyandang
gelar S1 Penjaskesrek. Saya ceritakan sedikit runutannya, saya masuk kuliah di
salah satu Universitas Negeri di Lampung nggak pake test, nggak perlu
berkompetisi mengalahkan siswa/I lain. Waktu itu namanya PKAB, saya sampai lupa
apa kepanjangannya. Singkat cerita untuk masuk lewat jalur PKAB kita harus
mendaftar di sekolah dulu, kemudian direkomendasikan oleh guru olahraga di
sekolah tsb. Jadi tahu kan kalau anak – anak yang masuk melalui jalur ini nggak
sepenuhnya smart, faktor
keberuntungan lebih tepatnya hehe. Karena apa?ya karena masuknya melalui
rekomendasi guru, kan bisa saja tuh nilainya di katrol.
![]() |
| sepakbola dan tata bahasa |
Sepakbola, Kompetisi
yang Kompetitif
Begini,
sepakbola erat kaitannya dengan kompetisi. Menurut KBBI kompetisi adalah pertandingan untuk merebut kejuaraan dalam
gabungan perkumpulan olahraga (sepak bola dan sebagainya). Kompetisi inilah yang mempengaruhi
banyak atau tidak minat seseorang dalam satu pertandingan sepakbola. Semakin
ketat persaingan sebuah kompetisi, maka semakin ramai penontonnya. Misal di
Indonesia ada pertandingan Persija Jakarta vs Persib Bandung. Lebih global lagi banyak pertandingan liga- liga top eropa yang
mempertontotnkan pertandingan yang ciamik, seru, penuh drama. Sejak kapan sih
negara kita mengenal kompetisi? Dulu…perkumpulan – perkumpulan pribumi di tanah
jawa membentuk organisasi sepakbola bernama Persatuan Sepak Raga Seluruh
Indonesia (PSSI) pada 19 april 1930. Setelah kemerdekaan kata “Sepak Raga”
berubah menjadi “Sepak Bola”. Dari berdirinya PSSI kemudian muncul perserikatan.
Ini adalah kompetisi sepak bola yang paling dikenal oleh para
penikmat sepak bola Indonesia. PSSI sendiri, menjadi tonggak sejarah perlawanan
sepak bola pribumi terhadap pemerintah kolonial. Pembentukan PSSI kemudian
diikuti pula dengan pembentukan kompetisi sepak bola. Di daerah masing-masing
sudah mulai rutin menggelar kompetisi antar daerah. Kompetisi tersebut nantinya
akan berujung pada pencarian pemain untuk memperkuat tim untuk pertandingan
antar kota, kalau jaman sekarang kaya seleksi gitu.
Sepakbola Bukan Sepak
bola
Dan
lanjut pembahasan tentang kata sepakbola, lagi menurut KBBI adalah permainan
beregu di lapangan, menggunakan bola sepak dari dua kelompok yang berlawanan
yang masing-masing terdiri atas sebelas pemain, berlangsung selama 2 x 45
menit, kemenangan ditentukan oleh selisih gol yang masuk ke gawang lawan.
Saya
copas lengkap tanpa edit, karena disitu juga mencantumkan waktu pertandingan
yakni 2 X 45 menit. Saya pribadi kurang srek, bisa diartikan bahwa pertandingan
berjalan dua menit dikalikan 45. Bisa anda bayangkan pertandingan macam apa
yang menggunakan waktu seperti itu hehe. Harusnya 45 X 2 yang berarti ada dua
babak dalam satu pertandingan. Dan per babaknya berdurasi 45 menit, logis
bukan. Jangan salah, perihal waktu pertandingan seperti itu sering muncul di
soal semester sekolah. Pola dan tutur kata seperti ini yang harus kita sudahi
dan mulai dirubah. Nah kali ini saya kurang setuju dengan yang diartikan oleh
KBBI tentang arti sepakbola, saya berasumsi bahwa kata “Sepak Bola” harusnya
lebur menjadi “Sepakbola” kenapa?alasannya sederhana , jika kata “Sepak Bola”
sepak dan bola dipisah maka dalam pertandingan akan ada sepak – sepak yang
lainnya. Misalnya sepak – wasit, sepak – kaki, sepak – badan, dll, nah kan
kacau kalau kaya gini ceritanya. Apakah anda sudah menyadari kelanjutan akan
cerita ini melalui judul yang saya tulis?jika sudah, saya tahu anda juga penggemar
sepakbola haha… *tos*
Berawal
dari Sepak Raga dan kompetisi tadi saya ingin sampaikan bahwa di negeri kita
ini emang lumrah dengan hal sepak menyepak. Hukum rimba pun berlaku, sebelum di
sepak ya mending nyepak duluan. Begitulah logika hukum rimba yang terjadi di
persepakbolaan kita, setuju atau tidak ituah yang terjadi. Belum lagi sejarah
masa kecil kita (saya dan anda) pernah mendengar ucapan begini “hei…kalau mau
berantem di lapangan sana, jangan disini” hehe pernah kan? Ucapan sepele yang
terdengar bijak tersebut secara tidak langsung ternyata menciptakan “kericuhan”
yang luar biasa hingga sekarang. Secara psikologis seseorang akan
mengartikannya lapangan ajang untuk berantem bukannya main bola. Lapangan jadi
ajang berantem, tawuran, nongkrong bersanding anggur (mabok), nggak cuma lapangan,
stadion juga loh. Saya tidak menyalahkan sejarah, tapi hal yang dahulu sudah
terjadi masih kita perbaiki di era milenial ini.
![]() |
| ilustrasi |
Dan
karena itulah saya lebih setuju kata “Sepak Bola” dilebur menjadi Sepakbola,
lebih efisien, nggak repot ngetik, dan filosofinya dapet. Masih mau
nyangkal?itu yang terjadi di dunia pesepakbolaan kita bro. Berantem kan bisa di
ring, atau di matras, nggak melulu di tempat yang luas, itu lebih LAKI menurut
saya, walaupun era ini yang berantem nggak cuma kaum pria sih, wanita juga
banyak hehe. Yah…tolongah, sekarang kan udah ada ring tinju, matras judo,
karate, ninjitsu dan banyak lagi. Jadi kalau kapan – kapan di jalan nemui orang
lagi berantem, segera pisah, lerai mereka dan bilang “jangan sok jadi jagoan,
nggak semua masalah bisa diselesaikan dengan berkelahi” gitu, kan keren. Mulai
dari hal sesepele dan ringan seperti yang kita sudah baca ini anda dapat mulai
menularkan maindset, yang lebih baik,
juga ikut mendukung terciptanya olahraga yang sportif dan fair. Dengan begitu kita
bisa berharap sepakbola negeri ini maju, berprestasi dan
bermartabat…amiiinnnnn.









